Melatih Kesabaran dan Ekspresi Diri Lewat Seni Kanji
Beberapa peserta program Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth (JENESYS) mempelajari seni tulisan Kanji di SMA Takikawa Barat, Kota Takikawa, Hokkaido, Jepang--
SURABAYA, JAMBIEKSPRES.CO- Jepang, yang dikenal dengan keramaian kota seperti Shibuya di Tokyo, juga menyimpan kekayaan budaya yang dalam.
Salah satunya adalah seni kaligrafi Kanji, yang lebih dari sekadar cara menulis.
Kanji mengandung filosofi mendalam yang bisa melatih kesabaran sekaligus menjadi sarana untuk mengekspresikan diri.
Belum lama ini, ANTARA berkesempatan mengikuti program "Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth" (JENESYS) dan mengunjungi sebuah kota kecil di Hokkaido, Jepang.
Dalam suasana pagi yang tenang dan disertai salju, peserta program ini belajar langsung tentang seni menulis Kanji di SMA Takikawa Barat.
Setelah disambut hangat oleh guru dan siswa setempat, peserta memasuki ruang kelas yang penuh dengan peralatan kaligrafi, seperti kuas besar, tinta hitam, dan kertas kosong.
Di sinilah mereka mulai memahami lebih dalam tentang seni menulis Kanji.
Kanji adalah sistem tulisan yang diperkenalkan dari Tiongkok ke Jepang pada abad ke-1 Masehi dan memiliki lima jenis font yang berbeda, mulai dari tensho (huruf tertua) hingga kaisho (huruf paling representatif).
Setiap jenis memiliki aturan yang ketat dan cara penulisan yang khas, yang dapat mengungkapkan berbagai ekspresi, mulai dari ketegangan hingga kelembutan.
Menulis kaligrafi Kanji lebih dari sekadar menulis kata-kata—ia adalah seni.
Setiap garis yang ditulis menggambarkan perasaan dan emosi penulis, baik itu gelisah, tenang, marah, atau bahagia.
Dalam proses ini, penulis tidak hanya menulis tetapi juga merasakan apa yang ditulisnya.
Bagi masyarakat Jepang, seni Kanji adalah medium yang sangat dihargai.
Mereka meyakini bahwa melalui tulisan yang indah, seseorang dapat mengekspresikan kepribadian, perasaan, dan emosinya.
Namun, dengan berkembangnya zaman, banyak orang yang menulis kaligrafi tanpa memperhatikan prosesnya, sehingga makna seni ini pun semakin tergerus.
Saat mencoba menulis, para peserta program JENESYS mengalami tantangan besar. Meskipun semangat tinggi, hasil tulisan mereka tampak belepotan.
Hal ini terjadi karena menulis Kanji membutuhkan keterampilan khusus, termasuk kesabaran, ketepatan, dan pemahaman tentang kapan harus menekan atau menarik kuas.
Rina, seorang siswa dari SMA Takikawa Barat yang mendampingi para peserta, menjelaskan bahwa setiap karakter Kanji mengandung teknik tertentu yang perlu dipahami.
Misalnya, kata Wa (perdamaian) harus ditulis dengan garis yang mencerminkan ketenangan, sementara YuMe (mimpi) harus menampilkan optimisme dan percaya diri.
Meskipun awalnya sulit, para peserta akhirnya mulai menghasilkan tulisan yang lebih sesuai dengan makna kata-kata yang mereka pilih.
Selain belajar tentang karakter yang sudah ada, mereka juga diajak untuk mengeksplorasi tulisan Kanji yang berkaitan dengan nama mereka.
Seperti Astrid, yang ternyata namanya dalam Kanji berarti "burung yang terbang mencari tempat damai."
Setelah selesai, setiap peserta membawa pulang karya mereka—sebuah kenang-kenangan yang sarat makna, baik tentang seni maupun filosofi yang terkandung dalam setiap goresan huruf Kanji. (*)