Timtim Maduro

Rabu 07 Jan 2026 - 19:52 WIB
Editor : Jurnal

Dari rajinnya membaca itu Efatha merasa punya guru menulis --yang Anda sudah kenal namanya. Karena itu tulisan Efatha terasa sangat lincah. Kalimat-kalimatnya pendek. Hanya sedikit kurangnya: kurang menyelipkan sedikit humor.

Bacalah sendiri hebatnya tulisan 300 menitnya di bagian bawah tulisan saya ini. Ups jangan membacanya. Anda sudah membaca itu. Amati gaya tulisannya. Dan kedalaman isinya.

Dari Udayana Efatha mengambil S-2 di Universitas Brawijaya: ilmu pertahanan. Lalu kembali ke Udayana mengambil S-3 bidang hukum. Zigzag: politik-pertahanan-hukum. Tapi memang masih saling terkait.

Ia ingin mendalami bagaimana status hukum robot dan AI di masa depan. Akankah mereka benar-benar bisa jadi manusia yang sesungguhnya. Termasuk berhak atas kewarganegaraan.

Kalau saja bisa Disway pun akan mengalami kesulitan menggunakan kata ganti untuk mereka: dia atau ia; nyi atau nya.

Efatha anak tunggal. Ayah-ibunya pensiun di Bali. Boleh dikata Efatha masih pengantin baru. Belum punya anak. Istrinya juga orang Timtim --dari kota kecil dekat perbatasan dengan NTT. Tidak jauh dari Dili.

Dia, sang istri, adalah adik semesternya di Udayana. Kini sang istri sedang menyelesaikan S-3. Juga di Udayana. Bidang hukum.

"Aneh", kata Efatha, "orang seperti imigran tidak bisa dapat kewarganegaraan, justru Sophia bisa dapat", katanya.(Dahlan Iskan)

Kategori :

Terkait

Minggu 25 Jan 2026 - 19:14 WIB

Hady Alan

Sabtu 24 Jan 2026 - 22:03 WIB

Belah Tiga

Jumat 23 Jan 2026 - 21:22 WIB

Transformasi Ngambek

Kamis 22 Jan 2026 - 21:06 WIB

HWW

Rabu 21 Jan 2026 - 21:03 WIB

Pati Madiun