Pendekatan Medis dengan Semaglutide Dinilai Efektif Bantu Pengendalian Obesitas
Ilustrasi terapi program SemaSlim. (ANTARA/HO-LIGHThouse Clinic)) --
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO– Pendekatan medis berbasis terapi obat dinilai semakin relevan dalam upaya pengendalian obesitas, seiring meningkatnya angka kelebihan berat badan dan risiko penyakit metabolik di masyarakat.
Para ahli menilai obesitas merupakan kondisi kompleks yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengaturan pola makan dan olahraga semata, melainkan membutuhkan intervensi medis yang terukur dan berkelanjutan.
Certified Obesity & Weight Management Consultant Dr. Guadelupe Maria Melissa mengatakan obesitas bukan sekadar akibat konsumsi makanan berlebih, melainkan berkaitan erat dengan gangguan mekanisme biologis tubuh, khususnya dalam pengaturan rasa lapar dan kenyang.
“Pada banyak pasien obesitas, terdapat gangguan hormon yang membuat mereka lebih cepat merasa lapar dan sulit mencapai rasa kenyang. Kondisi ini menyebabkan upaya pembatasan porsi makan menjadi sangat menantang, bahkan ketika pasien memiliki motivasi kuat untuk menurunkan berat badan,” ujar Guadelupe dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku, perbaikan pola makan, serta peningkatan aktivitas fisik tetap menjadi fondasi utama dalam strategi penurunan berat badan jangka panjang.
Namun demikian, proses tersebut kerap membutuhkan waktu dan kesabaran, sehingga pada fase awal, dukungan intervensi medis dapat membantu pasien beradaptasi dengan gaya hidup baru.
Menurut Guadelupe, terapi medis berperan menekan rasa lapar secara fisiologis, sehingga pasien dapat lebih mudah mengontrol asupan kalori dan menjalani program diet dengan lebih konsisten.
Salah satu terapi yang kini banyak digunakan dalam penanganan obesitas adalah semaglutide, yakni obat yang bekerja dengan mengaktivasi reseptor glucagon-like peptide-1 (GLP-1).
Mekanisme kerja obat ini membantu mengatur kadar gula darah, memperlambat pengosongan lambung, serta meningkatkan rasa kenyang, sehingga konsumsi makanan dapat berkurang secara alami.
Meski demikian, Guadelupe menegaskan bahwa semaglutide bukanlah solusi instan untuk menurunkan berat badan.
Penggunaannya harus berada di bawah pengawasan tenaga medis dan disertai dengan pengaturan pola makan rendah kalori serta peningkatan aktivitas fisik agar manfaatnya optimal dan berkelanjutan.
“Hasil terbaik justru dicapai ketika terapi obat dipadukan dengan pendampingan gizi, edukasi gaya hidup sehat, serta evaluasi berkala. Tanpa pendekatan komprehensif, risiko efek samping maupun kegagalan penurunan berat badan dalam jangka panjang dapat meningkat,” katanya.
Sementara itu, Chief Medical Officer LIGHT Group Anna Yesito Wibowo menyampaikan bahwa meningkatnya kebutuhan akan pendekatan medis dalam penanganan obesitas mendorong klinik layanan kesehatan untuk mengembangkan program yang lebih terstruktur dan berbasis evaluasi medis menyeluruh.
Menurut Anna, terapi semaglutide perlu ditempatkan sebagai bagian dari kerangka penanganan obesitas yang komprehensif, bukan sebagai satu-satunya solusi.
“Pendekatan medis harus dimulai dari skrining kondisi kesehatan pasien secara ketat, penentuan dosis yang disesuaikan dengan kebutuhan individual, serta pemantauan berkala untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi,” ujarnya.
Anna menambahkan, LIGHThouse Clinic mengembangkan program SemaSlim yang ditujukan bagi pasien obesitas yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan nafsu makan.
Program tersebut dijalankan melalui pemberian injeksi semaglutide yang disertai pendampingan dokter dan ahli gizi, serta pemantauan progres secara rutin.
Ia menekankan bahwa aspek keamanan menjadi prioritas utama dalam penerapan terapi tersebut.
Menurutnya, efektivitas dan keamanan semaglutide telah mendapatkan pengakuan dari berbagai otoritas kesehatan internasional, seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat, National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris Raya, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia.
“Program SemaSlim dirancang sebagai upaya penurunan berat badan yang menyeluruh, sehingga pasien tidak hanya fokus pada angka timbangan, tetapi juga pada perbaikan kesehatan secara keseluruhan. Dengan pendekatan yang terkontrol dan berkelanjutan, diharapkan pasien dapat mencapai hasil yang lebih aman dan bertahan lama,” kata Anna. (*)