Baca Koran Jambi Ekspres Online

Idrus Marham Bela Bahlil Lahadalia

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham di Sentul International Convention Center, Bogor--

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO- Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menyesalkan hasil survei Center of Economic and Law Studies (Celios) yang menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia sebagai salah satu menteri berkinerja terburuk dalam 100 hari pertama Kabinet Merah Putih pada Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Idrus menyebut, survei tersebut menyesatkan dan tidak objektif. "Jadi tidak hanya mengkritisi tetapi menyesalkan (survei Celios) karena menyesatkan," kata Idrus di kantor DPP Partai Golkar.

Menurut Idrus, survei yang menempatkan Bahlil posisi terburuk hanya menilai kinerjanya dari sektor tertentu, tanpa mempertimbangkan cakupan tugas Kementerian ESDM yang luas.

BACA JUGA:Bahlil Klaim Berita Pembatalan Munas Golkar Hoaks

BACA JUGA:Bahlil Sebut Nilai Subsidi Tak Tepat Sasaran Capai Rp100 T

"Kalau kita bicara tentang ruang lingkup kerja daripada ESDM, di situ ada banyak Dirjen. Jadi ada Dirjen Minerba, yang mineral dan batubara, ada Dirjen migas, minyak dan gas, ada kelistrikan, ada energi baru terbarukan dan konservasi energi, ada badan geologi, dan ada pengembangan sumber daya manusia," tegasnya.

Dia menjelaskan, kebijakan besar seperti implementasi energi baru terbarukan sesuai Paris Agreement memerlukan proses bertahap dan tidak bisa dilakukan secara instan.

"Nah untuk menerapkan ini kan tidak membalik tangan begitu saja karena ada implikasi yang ditimbulkan dari ini. Misalkan terkait dengan batubara dan lain-lain sebagainya, ini kan ada implikasi yang sangat luar biasa," tegas Idrus. 

Karena itu, Golkar berpendapat bahwa hasil survei itu tidak komprehensif dan menyeluruh, melainkan parsial dan tidak terintegrasi.

Dia pun meminta agar setiap lembaga survei lebih komprehensif dan mempertimbangkan aspek yang lebih luas sebelum memberikan penilaian terhadap kinerja. 

"Sekali lagi kami mengatakan bahwa ini tidak cukup dan kalau dilakukan pasti sangat subjektif dan saya kira perlu diskusi lebih jauh," pungkasnya. (gwb)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan