Menjadikan Kampus Sebagai Agen Perubahan Sosial
Dirjen Dikti Kemdiktisaintek RI Khairul Munadi dan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek Berry Juliandi (kiri) dalam temu media di Kantor Kemdiktisaintek--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO– Dunia pendidikan tinggi Indonesia kini memasuki babak baru. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan program bertajuk Kampus Berdampak, sebuah langkah strategis yang dirancang untuk mengarahkan perguruan tinggi agar lebih terlibat secara aktif dalam menyelesaikan persoalan-persoalan nyata di masyarakat.
Dalam temu media yang digelar di Jakarta, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menyampaikan bahwa Kampus Berdampak merupakan kelanjutan sekaligus penyempurnaan dari semangat Kampus Merdeka, dengan fokus yang lebih tajam pada dampak sosial dan pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat lokal dan nasional.
"Sudah saatnya kampus tidak hanya menjadi menara gading, tetapi berubah menjadi pusat solusi bagi tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia," ujar Khairul. "Kami ingin kampus-kampus tampil di garis depan, membantu mengatasi masalah kemiskinan, stunting, hingga meningkatkan literasi di berbagai wilayah."
Program Kampus Berdampak tidak berdiri sendiri. Ia merupakan lanjutan dari berbagai inisiatif pendidikan tinggi sebelumnya, terutama Kampus Merdeka yang selama ini telah membuka ruang kebebasan belajar bagi mahasiswa.
Namun, jika Kampus Merdeka menekankan kebebasan memilih topik pembelajaran dan pengalaman luar kampus, maka Kampus Berdampak hadir dengan semangat pengarahan dan penajaman fokus.
Berry Juliandi, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdiktisaintek, menjelaskan bahwa program-program seperti Magang Berdampak dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tetap berjalan.
Namun, ke depan, semua aktivitas ini akan diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan publik.
“Dulu mahasiswa bebas memilih tema yang mereka sukai, sekarang kita ajak mereka berpikir lebih besar: bagaimana karya dan ide mereka bisa memberi solusi konkret,” tegas Berry. “Bukan hanya inovatif, tapi juga berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.”
Salah satu sorotan utama dari program Kampus Berdampak adalah peran penting kampus-kampus di luar pusat kota. Kemdiktisaintek melihat bahwa perguruan tinggi yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan transformasi sosial dan pembangunan daerah.
"Kehadiran kampus di daerah bukan pelengkap, melainkan fondasi dari strategi pembangunan nasional," jelas Khairul.
"Kampus-kampus tersebut sangat memahami karakter, tantangan, dan kekuatan lokal. Mereka bisa menjadi agen perubahan yang paling efektif."
Dengan melibatkan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan berbasis pengabdian masyarakat yang terstruktur dan berbasis data, Kemdiktisaintek berharap setiap kampus dapat menjadi pusat solusi lokal yang menghasilkan dampak nasional.
Program Kampus Berdampak juga menekankan pentingnya hasil yang dapat diukur.
Setiap proyek, inisiatif, atau kegiatan mahasiswa akan diarahkan pada indikator-indikator yang mencerminkan perubahan sosial atau peningkatan kualitas hidup masyarakat, seperti angka penurunan stunting, peningkatan literasi keuangan, atau akses terhadap teknologi tepat guna.
Dengan pendekatan berbasis data dan evaluasi yang ketat, program ini bertujuan untuk tidak hanya mendongkrak keterlibatan kampus, tetapi juga memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar berdampak.
Transformasi ini juga mendorong kampus untuk memperluas jejaring dan berkolaborasi, baik dengan pemerintah daerah, sektor swasta, organisasi non-profit, hingga komunitas lokal.
Dalam semangat kolaborasi ini, keberhasilan satu kampus tidak dilihat sebagai capaian individual, melainkan bagian dari ekosistem pendidikan tinggi nasional yang saling mendukung.
Melalui Kampus Berdampak, pemerintah berharap lahir generasi mahasiswa dan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli, responsif, dan mampu menghadirkan solusi nyata di tengah masyarakat.
Dunia pendidikan tinggi tidak lagi semata-mata menghasilkan ijazah, melainkan juga agen perubahan yang berpikir sistemik dan bekerja langsung di lapangan.
"Kampus bukan lagi tempat menunggu perubahan. Kini, mereka harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri," tutup Khairul.
Dengan pendekatan yang lebih terarah, kolaboratif, dan berbasis dampak, Kampus Berdampak berpotensi menjadi salah satu inisiatif paling signifikan dalam sejarah reformasi pendidikan tinggi Indonesia.
Di tengah tantangan zaman yang kompleks, inilah saatnya kampus hadir bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai kekuatan nyata dalam membentuk masa depan bangsa. (*)