Membangun Nalar Kritis agar Tak Terjebak Kenyamanan Instan
Ilustrasi- Sejumlah siswa di salah satu sekolah mencoba sistem aplikasi Microsleep berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. --
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO–Di tengah pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian merambah berbagai aspek kehidupan, muncul tantangan baru dalam dunia pendidikan anak: bagaimana menjaga daya pikir kritis mereka agar tidak tumpul akibat kemudahan akses informasi yang serba instan.
Psikolog klinis anak dan keluarga dari Universitas Indonesia, Adityana Kasadravati Putranto, mengingatkan bahwa penggunaan AI oleh anak-anak harus dibarengi dengan pendidikan literasi digital dan penguatan keterampilan berpikir kritis.
Jika tidak, AI justru bisa menjadi bumerang yang membentuk generasi pasif dan terlalu bergantung pada jawaban cepat.
“AI sangat bermanfaat sebagai alat bantu, tapi bukan pengganti proses belajar. Anak harus dibiasakan untuk berpikir, menganalisis, dan mengevaluasi informasi yang mereka terima, termasuk dari AI,” ujar Adityana saat dihubungi ANTARA.
AI seperti ChatGPT, Google Bard, hingga berbagai aplikasi edukasi pintar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan pelajar.
Dalam hitungan detik, anak-anak bisa mendapatkan jawaban atas soal matematika, ringkasan materi sejarah, atau bahkan menulis esai. Namun, kemudahan ini dapat menciptakan apa yang disebut para pakar sebagai “kemalasan kognitif”—kondisi di mana seseorang kehilangan motivasi untuk berpikir karena merasa semua jawaban sudah tersedia.
Adityana mengingatkan, kebiasaan ini berbahaya jika tidak disadari sejak dini.
“Saat anak terlalu terbiasa menerima jawaban jadi, mereka kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir logis, menyusun argumen, dan membangun pemahaman yang mendalam.”
Karena itulah, ia menekankan pentingnya peran orang tua untuk tidak hanya memperkenalkan teknologi, tetapi juga membimbing penggunaannya.
Orang tua harus mampu menanamkan bahwa teknologi adalah alat bantu, bukan solusi utama.
Di luar soal berpikir kritis, aspek etika juga tak boleh diabaikan. Adityana mendorong orang tua untuk berdiskusi secara terbuka dengan anak mengenai konsep plagiarisme, kejujuran akademik, dan tanggung jawab dalam menggunakan AI.
“Misalnya, saat anak menggunakan AI untuk membantu mengerjakan tugas, ajak mereka berdiskusi: apakah ini benar-benar membantu atau malah mencontek? Apa yang bisa kita pelajari dari jawaban AI itu?”
Langkah-langkah ini penting agar anak tak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga berintegritas dan sadar akan batas-batas penggunaan teknologi secara etis.
Alih-alih hanya mengawasi dari kejauhan, Adityana menyarankan agar orang tua terlibat aktif dalam proses penggunaan AI oleh anak-anak.
Ini bukan hanya soal memantau durasi layar, tapi juga menjadi partner diskusi yang kritis dan suportif.
“Mendampingi anak artinya ikut belajar bersama mereka, berdiskusi tentang apa yang sedang dipelajari, bahkan mempertanyakan hal-hal bersama. Jadikan penggunaan AI sebagai momen edukatif, bukan sekadar hiburan atau ‘asisten pribadi’ anak,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya batasan waktu penggunaan teknologi. Terlalu lama berada di depan layar bisa berdampak negatif pada kesehatan mata, postur tubuh, hingga keseimbangan mental anak.
Maka, perlu ada jadwal teratur yang mengatur waktu belajar, bermain, istirahat, dan aktivitas fisik.
Poin penting lain yang disampaikan Adityana adalah selektif dalam memilih aplikasi AI yang digunakan oleh anak. Banyak aplikasi mengklaim edukatif, namun belum tentu terverifikasi atau sesuai untuk usia tertentu.
Orang tua harus melakukan kurasi dan memahami isi serta fungsi aplikasi yang diunduh anak-anak mereka.
“Jangan sembarang instal aplikasi hanya karena terlihat canggih atau populer. Cek kontennya, pastikan sesuai dengan tingkat perkembangan anak, dan jangan abaikan rating usia,” imbuhnya.
Yang paling tidak boleh dilupakan, kata Adityana, adalah bahwa AI—sehebat apapun—tidak bisa menggantikan pengalaman sosial dan belajar langsung. Anak tetap perlu bermain dengan teman sebaya, terlibat dalam kegiatan luar ruangan, dan merasakan pembelajaran secara nyata.
“Teknologi boleh canggih, tapi manusia tetap butuh koneksi antarmanusia. Anak-anak belajar empati, kerja sama, dan komunikasi dari interaksi langsung—bukan dari chatbot.”
Di akhir wawancara, Adityana menegaskan bahwa tantangan mendidik anak di era AI bukan soal menolak teknologi, tetapi bagaimana menjadikan anak sebagai pengguna yang aktif, cerdas, dan bertanggung jawab.
“Mereka adalah generasi yang akan tumbuh bersama AI. Tapi kita sebagai orang tua dan pendidik harus memastikan bahwa mereka tidak hanya pandai menekan tombol, tapi juga tahu mengapa mereka melakukannya.” (*)