Baca Koran Jambi Ekspres Online

Satu dari Empat Perempuan Berisiko Alami Perdarahan Menstruasi Berat

Dokter Kandungan dan Ahli Fertilitas Endokrinologi Reproduksi FKUI RSCM dr. Achmad Kemal Harzif, Sp.OG, Subsp. FER Dalam konferensi pers bertajuk “Kenali Perdarahan Menstruasi Berat dan LNG IUS untuk Trapi PMB” yang digelar di Jakarta--

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO-Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia–RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), dr. Achmad Kemal Harzif, Sp.OG (K)-FER, mengungkapkan bahwa satu dari empat perempuan usia reproduktif berpotensi mengalami Perdarahan Menstruasi Berat (PMB) atau Heavy Menstrual Bleeding (HMB).

“Normalnya menstruasi hanya sekitar 80 cc darah dalam lima hingga tujuh hari. Kalau sudah lebih dari delapan hari, itu sudah tergolong memanjang,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Senin (26/5).

Menurut dr. Kemal, PMB ditandai dengan keluarnya darah menstruasi secara berlebihan hingga mengganggu aktivitas fisik, emosional, dan bahkan kondisi finansial perempuan.

Beberapa gejala PMB antara lain:

  • Sering mengganti pembalut atau tampon setiap 1–2 jam karena penuh

  • Perdarahan berlangsung lebih dari tujuh hari

  • Keluar gumpalan darah besar

  • Rasa nyeri hebat di bagian bawah perut saat menstruasi

Meski cukup umum, ia menyebut sekitar 47 persen perempuan tidak menyadari bahwa mereka mengalami PMB, dan menganggapnya sebagai kondisi normal dalam siklus menstruasi. Selain itu, 39 persen perempuan tidak mengetahui bahwa kondisi ini bisa diobati.

“Padahal, dampak PMB cukup serius, mulai dari anemia, kelelahan, pucat, sesak napas, hingga peningkatan risiko penyakit jantung,” jelasnya.

Kondisi ini juga dapat menurunkan produktivitas karena mengganggu aktivitas sehari-hari, menimbulkan gangguan tidur dan mental, serta meningkatkan beban finansial akibat biaya pengobatan dan perawatan.

Karena itu, dr. Kemal menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat. Ia menyatakan bahwa saat ini sudah tersedia berbagai terapi pengobatan PMB, tergantung pada kondisi dan kebutuhan pasien.

Bagi pasien yang sedang dalam program hamil, dokter bisa memberikan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan asam traneksamat. Sementara bagi yang tidak berencana hamil, terapi alternatif seperti Levonorgestrel Releasing Intrauterine System (LNG-IUS) dapat menjadi pilihan.

 

“LNG-IUS adalah alat kecil berbentuk huruf T yang dimasukkan ke dalam rahim. Alat ini melepaskan hormon secara perlahan untuk mencegah penebalan dinding rahim dan mengurangi perdarahan,” tuturnya.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan