Baca Koran Jambi Ekspres Online

1 Dari 10 Mobil di Jalan-jalan Bertenaga Listrik

MOBIL LISTRIK: Suasana pabrik Changan Automobile di kota Chongqing, China pada Selasa (20/5/2025) --

Melihat Dapur Mobil Listrik Tiongkok

SELIWERAN berbagai jenis mobil listrik di kota-kota besar di China tidak terjadi dalam semalam. Penggerak utamanya adalah pemerintah China yang mengerahkan kekuatan ekonominya untuk pengembangan mobil listrik, mirip dengan kebijakan industri yang dikendalikan terpusat untuk mendorong kebangkitan otomotif Jepang pada 1970-an dan 1980-an.

 

PADA 2009, pemerintah China meluncurkan program subsidi percontohan sebagai dasar bagi jaringan kendaraan listrik. Dijuluki "Sepuluh Kota dan Seribu Kendaraan," (十城千辆, Shí Chéng Qiān Liàng) sebagai program percontohan untuk mempercepat adopsi kendaraan energi baru (NEV/New Energy Vehicles), terutama kendaraan listrik dan hibrida, di sektor transportasi umum.

Saat itu, pemerintah China ingin mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memimpin pasar kendaraan ramah lingkungan global.

Kebijakan didahului dengan penggunaan bus listrik, taksi listrik dan kendaraan dinas pemerintah di 13 kota, yaitu Beijing, Shanghai, Shenzhen, Chongqing, Hangzhou, Hefei, Changchun, Dalian, Jinan, Wuhan, Nanchang, Tianjin hingga Zhuzhou yang bekerja sama dengan produsen-produsen otomotif lokal seperti SAIC Motor, BYD, Dongfeng Motor, FAW Toyota dan lainnya.

Setiap kota diwajibkan mengoperasikan minimal 1.000 kendaraan listrik dalam 3 tahun, misalnya untuk bus umum atau taksi.

Pemerintah pusat dan lokal pun memberikan bantuan pembelian, subsidi baterai serta pembangunan stasiun pengisian daya. Sedangkan produsen otomotif didorong untuk berinovasi dalam teknologi baterai dan motor listrik.

Program tersebut sukses dan bahkan melampaui target awal. Pada 2012, lebih dari 25 kota berpartisipasi dengan lebih 30.000 NEV sudah beroperasi.

Kebijakan tersebut pun menjadi batu loncatan untuk dominasi merek mobil listrik China di pasar kendaraan listrik global seperti BYD, NIO dan XPeng.

Kemudian mulai 2013, subsidi diberikan kepada konsumen perorangan melalui sistem berjenjang berdasarkan jarak tempuh kendaraan listrik.

Pemerintah menghentikan subsidi pada 2022. Tetapi pada saat itu, China sudah berada di posisi mendominasi kendaraan listrik. Negara tersebut juga menawarkan pengecualian pajak penjualan 10 persen untuk menutupi biaya mobil, yang dijadwalkan akan dihapuskan secara bertahap pada 2027.

Penelitian Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan secara total, pemerintah China memberikan subsidi sebesar 231 miliar dolar AS dari 2009 hingga 2023.

Sejak 2024, konsumen mobil listrik China juga tidak perlu membayar pajak untuk kendaraan listrik yang memiliki jarak tempuh minimal 200 km per pengisian daya

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan