Dorong Guru Bahasa Indonesia Terapkan Pendekatan Deep Learning di Kelas
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Pak Menteri Menyapa Guru Bahasa Indonesia 2025" --
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO– Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengimbau para guru Bahasa Indonesia untuk mulai mengadopsi pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam dalam proses belajar mengajar di kelas.
Langkah ini dinilainya sebagai bagian penting dari transformasi pendidikan nasional, khususnya dalam pengajaran Bahasa Indonesia yang lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman.
Mu’ti menegaskan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia tidak boleh lagi terbatas pada kemampuan dasar seperti membaca dan menulis, melainkan harus mengembangkan daya nalar kritis, kemampuan berpikir logis, serta kepekaan berbahasa dalam berbagai konteks komunikasi.
“Deep learning dalam pengajaran Bahasa Indonesia itu harus sudah mulai menjadi bagian dari transformasi pembelajaran. Tidak sekadar siswa bisa membaca, tetapi juga memahami bahasa dan isi bacaan secara mendalam,” ujar Abdul Mu’ti saat berbicara dalam forum “Pak Menteri Menyapa Guru Bahasa Indonesia” di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta.
Dalam paparannya, Mu’ti menyoroti kecenderungan pembelajaran Bahasa Indonesia yang selama ini bersifat normatif dan kurang inovatif.
Ia menyebutkan bahwa pendekatan konvensional yang terlalu berfokus pada kaidah tata bahasa dan hafalan membuat proses belajar terasa kaku dan kurang menginspirasi siswa.
Hal tersebut, menurutnya, berdampak pada rendahnya minat siswa terhadap pelajaran Bahasa Indonesia, terutama dalam membaca dan mengapresiasi karya sastra.
Padahal, menurut Mu’ti, karya sastra berperan penting dalam menumbuhkan karakter, membentuk empati, dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kalau pendekatannya hanya normatif, maka siswa akan kesulitan menemukan makna dalam karya sastra. Mereka kehilangan kesempatan untuk belajar memahami emosi, budaya, dan realitas sosial melalui bahasa,” ujarnya.
Mu’ti juga menyampaikan keprihatinannya atas penggunaan Bahasa Indonesia oleh generasi muda yang, menurut pengamatannya, lebih sering digunakan untuk menyebarkan kegaduhan (noise) ketimbang menyampaikan gagasan konstruktif (voice).
Fenomena ini, katanya, menjadi tantangan tersendiri di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan berekspresi di era digital.
“Anak-anak muda kita perlu dibekali kemampuan berbahasa yang kritis dan etis. Mereka harus mampu menggunakan Bahasa Indonesia untuk membangun dialog, bukan untuk menyerang,” tegasnya.
Sebagai solusi, Mu’ti mendorong para guru Bahasa Indonesia untuk mulai mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan pendekatan literasi kontekstual dalam pengajaran.
Dengan cara ini, siswa diajak aktif, reflektif, dan terlibat secara emosional dalam proses belajar.
“Forum ini memperkuat pemahaman guru terhadap arah kebijakan kebahasaan nasional serta mendorong pembelajaran bahasa yang lebih menyenangkan, kontekstual, dan multimoda,” imbuh Mu’ti.
Forum dialog “Pak Menteri Menyapa Guru Bahasa Indonesia” ini dihadiri oleh sekitar 250 peserta secara langsung (luring), yang terdiri dari guru Bahasa Indonesia se-Jabodetabek, mahasiswa, serta pejabat di lingkungan Kemendikdasmen.
Selain itu, tidak kurang dari 5.000 peserta lainnya dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti kegiatan ini secara daring melalui platform digital.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Kemendikdasmen untuk memperkuat kapasitas guru, memperluas pemahaman tentang pendekatan pembelajaran berbasis deep learning, dan mendorong perbaikan kualitas pendidikan Bahasa Indonesia secara menyeluruh. (*)