Ketika Warna Cerah Mengantar pada Penerimaan Diri
Seniman muda berbakat Peter Rhian dalam pameran The Redmiller Universe yang merupakan kolaborasi G3NProject, Ganara Art Space dan fX Sudirman yang diselenggarakan di Ganara Art FX Sudirman, Jakarta pada 4 Juli hingga 7 September 2025. (ANTARA/Indriani)--
Kembali menemukenali diri melalui "The Redmiller Universe"
Kilau dan riuh media sosial tak jarang menciptakan standar semu yang menjadi patokan baru bagi individu. Suara hati pun semakin tak terdengar bahkan mungkin saja terlupakan, padahal tak selayaknya standar semu itu menjadi acuan.
-----------------------
SENIMAN muda berbakat Peter Rhian mengajak publik untuk menelusuri perjalanan kontemplatif menuju cinta dan penerimaan diri melalui karya terbarunya pada ajang The Redmiller Universe.
Pameran hasil kolaborasi G3NProject, Ganara Art Space dan fX Sudirman itu menampilkan lukisan dan karya seni melalui balutan warna-warna cerah namun sarat makna.
Pameran itu menghadirkan karakter Redmiller Blood dalam berbagai karya seni. Peter menjelaskan karakter Redmiller Blood yang digambarkan seperti anak kecil, menggambarkan sisi lain dari manusia dewasa.
BACA JUGA:Daihatsu Ramaikan Pameran IIMS 2025
BACA JUGA:Museum Siginjei Gelar Pameran Teknologi Komunikasi Dulu, Kini dan Nanti
Sisi yang disimpan dalam-dalam demi terlihat kuat dan baik-baik saja. Padahal tak demikian adanya. Maka tak heran, karakter yang diciptakan selama periode 2020 hingga 2022 itu memiliki wajah seperti bayi dan berbentuk gemoy.
"Tujuannya agar mudah diterima siapapun, karena perasaan diterima itu merupakan perasaan yang kita semua manusia ingin punyai di setiap hubungan," kata Peter pada pembukaan The Redmiller Universe yang diselenggarakan di Ganara Art FX Sudirman Jakarta, akhir pekan lalu.
Namun demikian tak setiap orang bisa mendapatkan perasaan diterima, bahkan tak jarang terpaksa menggunakan topeng dan mengubah diri agar bisa diterima dan dicintai.
Rambut Redmiller Blood yang berwarna merah dan menyala menyiratkan keberanian. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia menyembunyikan ketakutan yang terselip pada lapis kepribadiannya. Sementara matanya yang berwarna-warni merupakan antitesis dari rasa takut yang dirasakan.
"Mata merupakan jendela jiwa, maka ketika kita melihat matanya maka akan menemukan galaksi di dalamnya. Galaksi itu adalah cerminan kejiwaan seseorang seperti layaknya alam semesta," kata dosen di salah satu kampus swasta di Bandung itu.
Peter tak memungkiri bahwa setiap individu memiliki rasa insecurity, rasa tidak aman dan percaya diri pada diri sendiri. Melalui pameran itu, Peter mengajak pengunjung untuk menemukan kembali dan bahkan mungkin menemukenali potensi diri yang lain. Mengingat-ingat kembali siapa diri kita sebenarnya.