Di Balik Sulitnya Akses dan Minim Fasilitas, Semangat Melayani Tak Pernah Padam.
Bidan Ilen memeriksa kesehatan seorang Sikerei di Dusun Kinikdog, Desa Matotonan, Siberut Selatan, Mentawai, Sumatera Barat, Minggu (6/7/2025). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/am.--
Kisah pelayanan kesehatan dari pelosok negeri di Mentawai
Bidan Ilen mengembangkan payungnya, melangkahi jalan rabat beton dari dusun ke dusun, naik-turun perbukitan untuk menghampiri rumah warga yang meminta diperiksa kesehatannya.
-----------------
Ia harus menempuh jarak sekitar setengah hingga dua kilometer menuju rumah warga yang tidak mampu datang ke pondok bersalin desa (Polindes) yang ditempatinya sekaligus tempat praktiknya.
Hari itu Ilen mendatangi rumah seorang Lansia yang kerap disapa Teteu Lumang di Dusun Matektek untuk memeriksa kondisi kesehatan sang pasien.
Sebelumnya Ilen sudah menyarankan kepada keluarga Teteu Lumang agar Lansia tersebut segera dirujuk ke puskesmas, tapi saat Ilen kembali datang hari itu, ternyata Teteu akan diobati oleh Sikerei (dukun tradisional Mentawai).
"Biasanya, sebelum diobati secara medis oleh petugas kesehatan, warga di sini memanggil Sikerei dulu, karena kepercayaan orang di sini kuat terhadap Sikerei," kata Bidan Ilen.
BACA JUGA:Satu Dekade Melayani, JKN Membangun Kesehatan Tanpa Batas hingga ke Pelosok Negeri
BACA JUGA:Siswa Sekolah Rakyat Jambi Jalani Tes Bakat Berbasis AI dan Pemeriksaan Kesehatan
Ilen yang bernama asli Candra Kirana itu sudah 10 tahun menjadi bidan honor di Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Pada tahun 2024 ia baru diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
"Akses di sini susah, kalau mau ke pusat kecamatan harus naik pompong, lalu naik becak atau naik ojek. Kalau masyarakat di sini harus dirujuk, itu makin susah, kadang warga tidak mau karena biayanya besar. Kalau ada yang melahirkan, kadang bisa mereka melahirkan sendiri, tidak perlu panggil kami karena akses yang sulit. Tiba-tiba sudah lahir saja, ya sudah yang penting selamat," jelas Ilen.
Desa Matotonan berjarak hanya sekitar 44,4 kilometer dari pusat kecamatan di Muara Siberut dengan perkiraan waktu tempuh sekitar satu jam jika melewati jalur darat normal. Namun, apa mau dikata, karena desa itu merupakan daerah pedalaman, maka perjalanan ke sana tidak dapat ditempuh sesuai ekspektasi.
Dari Muara Siberut, warga yang ingin kembali ke desa harus melewati jalur darat Trans Mentawai menggunakan motor atau mobil sekitar 1,5 jam. Kondisi jalan sekitar 5 kilometer rusak berat dengan jalan tanah yang bergelombang, sisanya jalan rabat beton dan kerikil.
Sampai di Desa Ugai, perjalanan dilanjutkan dengan pompong atau sampan panjang bermesin dompeng sekitar dua jam menyusuri sungai Sarereiket. Durasi tempuh akan bertambah saat air sungai dangkal.