Didikan Sederhana dari Keluarga Bhayangkara yang Berbuah Adhi Makayasa
KELUARGA BHAYANGKARA: Ipda Fathan Putra Rifito bersama orang tuanya yaitu Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono dan Hening Fitricia serta kakak perempuannya Aurelia Putri Rifito. FOTO: ANTARA/HO-Dokumen Pribadi--
Cerita Ipda Fathan Putra Rifito, Raih Penghargaan Bergengsi di Akpol
Jika memang ingin masuk Akpol, ia meminta kepada Fathan untuk bekerja keras, berjuang sekuat tenaga, karena Barito menyebutkan masuk Akpol butuh persiapan yang matang bukan persiapan yang hanya sekejap.
——-
RASA bangga dan terharu, mungkin itu yang ada di benak dan hati ayahanda dari Ipda Fathan Putra Rifito, yakni Irjen Pol Barito Mulyo Ratmono.
Barito saat dijumpai ANTARA di kediamannya yang berlokasi di Klender, Jakarta Timur, mengungkapkan dia bersama istrinya Hening Fitricia mengaku tidak kuasa meneteskan air mata bahagia saat anak bontotnya meraih Adhi Makayasa Angkatan ke-57 Batalyon Adhi Wiratama Akademi Kepolisian (Akpol).
Ia menceritakan bagaimana caranya mendidik seorang Fathan sejak kecil hingga sampai sekarang. Juga bagaimana Fathan saat masih kecil selalu berpindah-pindah sekolah untuk mengikuti tugas dinas ayahnya, mulai dari Singkawang, Kalimantan Barat hingga Konawe, Sulawesi Tenggara.
BACA JUGA:Erika Carlina USG Bersama Keluarga
BACA JUGA:4.520 Keluarga di Sungai Penuh Terima Bantuan Beras Periode Juni-Juli 2025
Tak bisa dipungkiri kualitas sekolah di Pulau Jawa tidak sama jika dibandingkan dengan luar Pulau Jawa, hal tersebut yang juga dipikirkan oleh Barito jika anak-anaknya terus mengikuti tugas dinasnya, maka dikhawatirkan pendidikan mereka menjadi kurang optimal.
Namun bagi Barito, penanaman karakter keluarga dengan moral adalah pendidikan yang tidak kalah penting dari bangku sekolah. Ia menanamkan bahwa keluarga adalah nomor satu. Keluarga bukan sekadar ikatan darah, melainkan harus bisa bekerja sama layaknya sebuah tim.
Sementara itu sang Ibunda Fathan, Hening Fitricia menjelaskan bahwa dirinya selalu mendampingi Fathan kecil mulai Senin hingga Jumat, sedangkan Sabtu dan Minggu baru giliran ayahnya yang menemani Fathan.
Barito menyebutkan hal tersebut merupakan pembagian tugas sebagai tim dan ia juga menanamkan kepada anak-anaknya untuk hidup sederhana. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk berjuang dan selalu mengingatkan bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi.
Contohnya, saat Fathan masih duduk di bangku sekolah dasar. Sang anak paham kalau orang tuanya tidak memiliki banyak uang, sehingga Fathan bisa mengerem keinginannya untuk meminta mainan itu kepada orang tuanya.
Akhirnya sang ayah mengajak ke sebuah tempat mainan dan di sana, benar saja, Fathan hanya melihat kemudian minta izin untuk memegangnya. Setelah selesai dilakukan, ia mengajak orang tuanya untuk pulang tanpa merengek untuk membeli mainan tersebut.