Harga Kelapa Turun, Petani di Tanjabtim Tetap Bertahan
Penampung kelapa di Kecamatan Mendahara.--
MUARASABAK, JAMBIEKSPRES.CO– Harga jual kelapa dalam di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mengalami penurunan signifikan dalam tiga bulan terakhir.
Meski demikian, para petani, seperti Hendra—warga Kecamatan Mendahara—tetap bertahan mengelola kebun kelapa mereka sebagai sumber penghidupan utama.
Menurut Hendra, harga kelapa dalam sebelumnya sempat mencapai Rp6.800 per kilogram, namun kini turun menjadi sekitar Rp4.300 per kilogram. Jika dijual melalui pengepul (toke), harga bisa lebih rendah, yakni sekitar Rp4.100 per kilogram.
“Kalau jual langsung ke kapal, harganya masih bisa Rp4.300. Tapi kalau lewat toke, lebih rendah lagi,” ujarnya, Senin (28/7).
Selain persoalan harga, para petani juga dihadapkan pada penurunan produksi akibat fenomena yang mereka sebut “ngetrek”, yaitu berkurangnya jumlah buah secara drastis karena faktor lingkungan dan usia tanaman.
“Musim yang tidak menentu, kekeringan, dan banjir sangat memengaruhi jumlah buah. Kalau pohonnya sudah tua, produksinya turun juga,” jelasnya.
Dalam kondisi normal, petani kelapa dalam biasanya bisa memanen tiga hingga empat kali dalam setahun, dengan jarak panen sekitar tiga sampai empat bulan sekali.
Selain menjual kelapa utuh yang sudah dikupas sabutnya, petani juga mengolah hasil panen menjadi kopra.
Saat ini, harga kopra di tingkat petani mencapai sekitar Rp1.300.000 per pikul (100 kilogram).
Hendra menambahkan, di wilayah Mendahara terdapat dua dermaga tempat kapal pengangkut hasil panen bersandar untuk menampung kelapa dari petani setempat.
Meskipun berbagai tantangan terus dihadapi, ia berharap harga kelapa kembali stabil agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang layak.
“Buah saat ini memang masih banyak. Tapi musim ngetrek itu tidak bisa diprediksi. Harapan kami, harga bisa naik lagi supaya petani tetap semangat,” pungkasnya. (*)