Indonesia Perkuat Diplomasi Sains dengan Australia Lewat Dialog Strategis
Mendiktisaintek, Brian Yuliarto dalam kegiatan diskusi bertajuk "Strengthening Global Collaboration Trough Science and Technology Diplomacy"--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO-Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mempererat kerja sama strategis dengan Australia dalam bidang sains dan teknologi.
Penguatan hubungan ini ditandai dengan pelaksanaan forum Strategic Bilateral Dialogue bersama Australian Academy of Science (AAS) yang digelar di Jakarta pada Selasa (29/7).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam sambutannya menyampaikan bahwa sains dan teknologi harus menjadi pendorong utama dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan serta transformasi industri nasional.
Ia menegaskan bahwa arahan Presiden adalah menjadikan inovasi berbasis riset sebagai fondasi utama pembangunan, bukan lagi semata bergantung pada sektor-sektor berbasis sumber daya alam.
“Presiden mendorong kami untuk menjadikan sains dan teknologi sebagai landasan utama pembangunan. Visi Presiden jelas, kita tidak bisa terus bergantung pada sektor ekstraktif, melainkan harus mendorong inovasi yang berdampak melalui industrialisasi berbasis riset,” kata Brian.
Ia menggarisbawahi delapan prioritas nasional dalam bidang riset dan inovasi, yang meliputi ketahanan pangan, pengembangan energi terbarukan, kesehatan, teknologi digital, serta hilirisasi mineral strategis.
Selain itu, ia menekankan pentingnya mendorong generasi muda untuk menekuni jalur karier di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) dengan membangun ekosistem riset yang mendukung perkembangan talenta.
“Kami ingin anak-anak muda melihat bahwa jalur karir di bidang STEM menjanjikan masa depan yang cerah. Itu sebabnya kami membangun ekosistem riset dan industri yang saling mendukung,” tambahnya.
Presiden Australian Academy of Science (AAS), Chennupati Jagadish, menyambut baik upaya Indonesia dalam mendorong penguatan ekosistem sains dan teknologi.
Ia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan bersifat lintas batas, dan tantangan global seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat tidak bisa diselesaikan oleh satu negara saja, melainkan memerlukan kolaborasi ilmiah antarbangsa.
“Ilmu pengetahuan itu bersifat global, dan tantangan yang kita hadapi sebagai komunitas dunia hanya bisa diselesaikan melalui kerja sama ilmiah lintas negara,” ujarnya.
Jagadish juga menyampaikan komitmen AAS untuk memperkuat kolaborasi dengan Indonesia melalui berbagai program, seperti mentorship ilmuwan muda, pelatihan komunikasi sains, serta penguatan kapasitas sains dalam mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
Pertemuan bilateral ini turut membahas inisiatif strategis lainnya, termasuk rencana Indonesia untuk kembali aktif sebagai anggota International Science Council (ISC), pengembangan program doktoral bersama (joint Ph.D.), dan pembentukan skema pendanaan riset bilateral yang lebih terstruktur.
Australia selama ini menjadi salah satu mitra utama Indonesia dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya melalui program pengiriman 400 mahasiswa doktoral setiap tahun yang dikelola oleh Kemdiktisaintek.