Pentingnya Menerapkan Pembelajaran Konstruktif pada Anak Sejak Dini
Ilustrasi sejumlah siswa Sekolah Highscope Indonesia sedang belajar bersama.--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO— Redea Institute menekankan pentingnya menerapkan pendekatan pembelajaran konstruktif dalam pendidikan anak sejak usia dini.
Metode ini dinilai efektif dalam mendorong siswa untuk mengembangkan pemahaman tentang dunia melalui pengalaman langsung, keterlibatan aktif, dan refleksi atas proses belajar.
Founder & CEO Redea Institute, Antarina S.F. Amir, dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (30/7), menyampaikan bahwa konstruktivisme memberi ruang bagi anak untuk membangun pengetahuan sendiri dengan mengaitkan pembelajaran pada kehidupan nyata.
“Kami percaya bahwa konstruktivisme mendukung siswa dalam menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari, merenungkan keberhasilan dan kegagalan, serta membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia di sekitar mereka,” ujarnya.
Antarina menegaskan bahwa siswa akan belajar secara lebih optimal apabila didorong oleh motivasi internal.
Oleh karena itu, Redea Institute konsisten menerapkan metode pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa, berbasis riset, serta melibatkan pengajar sebagai fasilitator yang membimbing proses belajar.
Melalui pendekatan progresif berbasis constructivist learning, Redea Institute terus melakukan inovasi dalam merancang pengalaman belajar yang relevan, kontekstual, dan bermakna bagi peserta didik.
Pendekatan ini mencakup pengembangan siswa secara menyeluruh, mencakup aspek akademis, sosial-emosional, fisik, serta keterampilan berpikir kritis dan daya saing global.
Sebagai bagian dari implementasi metode ini, Redea Institute melalui jaringan sekolah HighScope Indonesia telah menerapkan kerangka pembelajaran 178 Learning Framework yang berlandaskan pada filosofi konstruktivisme.
Framework ini dirancang untuk memberikan struktur yang fleksibel sekaligus kuat dalam menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan partisipatif.
Keberhasilan pendekatan ini turut dibuktikan oleh para alumni. Salah satu lulusan HighScope Indonesia tahun 2010, Marcella Burhan, mengungkapkan bahwa keterampilan yang paling berguna selama kuliah adalah kemampuan presentasi, berbicara di depan umum, serta pengelolaan waktu dan berpikir logis.
Menurutnya, semua itu telah dilatihkan secara konsisten sejak masa sekolah.
“Kemampuan saya dalam memimpin dan berdiskusi secara kritis muncul karena terbiasa menghadapi berbagai dinamika diskusi kelompok saat di sekolah dulu,” kata Marcella.
Senada dengan itu, lulusan lainnya, Rayesha Ikram Hardono, yang kini berprofesi sebagai pengacara, menilai bahwa pengalaman dalam pengambilan keputusan selama masa sekolah menjadi bekal penting dalam pekerjaannya.