Baca Koran Jambi Ekspres Online

Merealisasikan Deep Learning Melalui Online Home Process Skills (OHOPROS)

Gamaliel Septian Airlanda, M.Pd.,C.CTc --

Oleh : Gamaliel Septian Airlanda, M.Pd.,C.CTc 

Indonesia mengenal detektif paling kuat, yaitu netizen. Terkadang mereka dianggap sebagai sang maha tahu. Beberapa pendapat yang dikeluarkan mereka terkadang bisa dipercaya, namun seringnya hanya provokasi belaka. Namun kali ini, perlu diakui pendapat netizen tentang bingungnya pemerintah dalam mengelola pendidikan dasar di Indonesia perlu dipercaya. Pernyataan ini dikuatkan dengan berita yang dimuat Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) pada 18 Oktober 2024 dengan judul “Kualitas Pendidikan Masuk Kategori Kritis, Sistem Pendidikan Perlu Dievaluasi.” (Parlementaria, 2024). Tidak terlalu mengejutkan bahwa langkah evaluasi yang ditempuh adalah dengan merilis pendekatan baru mengganti konsep pemerintahan yang lama. Terhitung sejak 11 Juli 2025, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menerbitkan perubahan Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri ini menjelaskan tentang detail pemberlakuan Pendekatan Pembelajaran Mendalam atau istilah yang dikenal secara internasional adalah Deep Learning. Perubahan signifikan terjadi pada kompetensi yang awalnya mengacu pada 6 dimensi Profil Pelajar Pancasila di Kurikulum Merdeka, berubah menjadi 8 dimensi kompetensi pendekatan pembelajaran mendalam. Kompetensi tersebut terdiri dari: keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi (PERMENDIKDASMEN, 2025). Perubahan ini sudah diendus oleh netizen sejak terpilihnya menteri pendidikan dasar dan menengah yang baru. Sebuah istilah yang tidak asing bagi dunia pendidikan adalah: “ganti menteri pasti ganti kurikulum.” slogan yang sudah dipahami umum dan pasti terjadi. 

Pelaksana Kebijakan Pendidikan yang Harus Lebih Bijak
Kondisi seperti ini, perlu dihadapi dengan bijak karena level pelaksana pembelajaran seperti guru dan dosen harus terus fokus pada pelayanan untuk siswa. Pelaksana di lapangan disarankan untuk lebih bijak dari para pembuat kebijakan. Layanan kepada siswa memerlukan energi yang luar biasa apalagi di level sekolah dasar (SD). Sekedar memikirkan seluk beluk kurikulum saja tidak cukup, karena di SD guru akan menghadapi siswa yang berkelahi dengan sesama siswa, pipis di celana, menangis karena tidak tuntas menyelesaikan tugas, menangis karena ditinggal orang tuanya, sering berkata kotor karena pergaulan di lingkungan rumah, tidak sopan pada orang yang lebih tua, suka berbohong, suka mengambil milik temannya, tidur di kelas dan sejenisnya. Ahh mana tau para petinggi itu! Ahhh mana mau tau para petinggi itu! Mereka hanya ingin pendapat politisnya dipenuhi tanpa peduli betapa repotnya pelaksanaan di lapangan. Oleh karena itu, memang para pelaksana di lapangan disarankan perlu lebih bijak. 
    Pikiran bijak salah satunya perlu diwujudkan dengan bentuk implementasi yang mudah, efektif, efisien dilakukan di sekolah maupun lingkungan sekitar. Bukan tentang rumitnya rencana pelaksanaan pembelajaran atau modul ajar, melainkan efisiennya keterlaksanaan kegiatan pembelajaran untuk siswa. Selain itu, guru SD perlu memikirkan keunikan siswa-siswi masa kini. Banyaknya siswa SD dengan label berkebutuhan khusus menyebabkan guru perlu melakukan modifikasi aktivitas pembelajaran. Ahh mana mau tau para petinggi itu! Faktor lain keberhasilan belajar yang tidak dipikirkan para pejabat berdasi adalah keberlanjutan proses belajar. Kondisi ini akan mempengaruhi pencapaian siswa baik secara kognitif, afektif dan psikomotor. 

Keberlanjutan Proses Belajar Jembatan Pengalaman Belajar Holistik
Keberlanjutan proses belajar siswa di dunia modern perlu memperhatikan beberapa aspek lingkungan belajar, yaitu: sekolah, rumah dan dunia maya. Sinkronisasi ketiganya mempengaruhi perkembangan holistik siswa yang membawa mereka untuk bertahan pada dinamisnya tekanan abad 21. Beberapa kasus membuktikan bahwa ketidaksinkronan lingkungan siswa, membuat mereka memiliki perilaku yang ekstrem. Berita 10 Juli 2025 yang dimuat Kompas.com menuliskan, “Dikenal Pendiam dan Berprestasi, Keluarga Kaget M jadi Tersangka Pembunuhan Brigadir Nurhadi.” Di samping itu, 17 Januari 2025 Detik.com memberitakan, “Siswi Lamongan yang Dibunuh Teman Sekelas Dikenal Baik dan Pendiam.” Berita-berita semacam ini membuktikan bahwa tidak terjadi sinkronisasi antara pelajaran di sekolah dan hidup sehari-hari. Belum lagi perilaku siswa di dunia maya. Pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana perubahan kurikulum Deep Learning mampu menjawab kasus nyata dalam pendidikan? 
Secara teori, Deep Learning yang diprakarsai oleh Michael Fullan dan tim melalui buku yang berjudul “Deep Learning Engage the World Change the World”, pendekatan ini dirancang untuk mengatasi karakter siswa di tengah dunia modern dan perkembangan teknologi yang begitu pesat (Fullan, 2018). Keunggulan pendekatan ini adalah kemampuannya dalam menganalisis data yang kompleks dengan berbagai sumber belajar. Deep learning dirancang agar siswa tidak hanya memahami pengetahuan secara konseptual, tetapi juga mampu menerapkannya dalam konteks kehidupan sehari-hari. Deep learning menurut Michael Fullan juga meningkatkan motivasi intrinsik peserta didik karena pembelajaran dirancang berdasarkan minat, kebutuhan, dan partisipasi aktif mereka. Dengan penjelasan ini, maka seharusnya pendekatan Deep Learning mampu menjawab kasus siswa dengan lingkungan belajarnya. Selanjutnya, perlu dipikirkan implementasi konseptual ini di ranah pembelajaran di Indonesia. Latar belakang siswa SD Indonesia yang sangat beragam termasuk hadirnya siswa berkebutuhan khusus perlu mendapat perhatian serius. 
Solusi dari Hasil Penelitian Home Process Skills dimanfaatkan untuk Program Kemitraan Masyarakat
Berbekal niat memberi solusi untuk guru SD di lapangan, salah satu peneliti pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengimplementasikannya dalam wujud sinkronisasi belajar di sekolah dan rumah. Gamaliel Septian Airlanda, yakin bahwa proses belajar harus berlanjut secara paralel antara rumah dan sekolah. Pendekatan yang ditawarkan adalah Home Process Skills dengan melibatkan orang tua sebagai faktor setara dengan guru dalam mengelola informasi akademik. Kondisi ini telah diteliti dan dipresentasikan dalam Seminar Internasional School as Learning Community pada bulan Maret 2025 di Jepang. Penelitian tersebut, menghasilkan kesimpulan bahwa kesesuaian atau kecocokan pola pendampingan anak di rumah dan sekolah membawa dampak signifikan bagi perkembangan belajar anak. Mereka mampu mencerna pola pendidikan seragam yang menguatkan pemahaman, keterampilan dan sikap. Kondisi semacam ini perlu didukung oleh orang tua. Selain itu, muncul motivasi belajar di rumah dan sekolah yang sama. Biasanya, siswa cenderung membedakan perilaku belajar di rumah dan sekolah yang juga berhubungan dengan tingkat keseriusan, ketuntasan dan kualitas belajar. Ketika diterapkan pendekatan Home Process Skills, siswa menunjukkan level kualitas yang sama. Efeknya, siswa cenderung memiliki pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif terhadap sains karena mereka mengalami sendiri hubungan antara teori dan praktik (Airlanda, 2019). Perlu langkah nyata berupa implementasi tindak lanjut dari hasil penelitian ini, supaya tidak berujung pada teori saja. 
Tim UKSW membantu guru SD dengan cara Program Kemitraan Masyarakat (PKM) OHOPROS (Online Home Process Skills) yang didanai Hibah Pendanaan Program Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2025. Program ini merupakan pengabdian masyarakat dalam rangka melakukan implementasi hasil penelitian dengan aplikasi smartphone. Aplikasi ini diciptakan untuk menjembatani waktu guru dan orang tua yang sulit dipertemukan. Namun, kesesuaian pola mendidik anak harus terus diusahakan. Komponen sinkronisasi OHOPROS terdiri dari 3 bagian yaitu: sosial-emosional, spiritual, penalaran ilmiah. Komponen ini sekaligus sinergis dengan kompetensi Deep Learning yaitu: karakter, penalaran kritis, kewargaan serta kolaborasi. Guru-orang tua dipandu oleh tim Universitas untuk berkomunikasi dengan aplikasi OHOPROS kapanpun dan dimanapun. Keduanya dipandu untuk membahas 3 komponen sinkronisasi pendampingan anak selama 8 bulan. Setiap 2 bulan dilakukan monitoring evaluasi (MONEV) secara tatap muka untuk melihat tingkat kentuntasan guru dan orang tua dalam mengatasi masalah pendampingan anak. Selain itu, MONEV juga dipantau secara profesional pada 3 komponen utama OHOPROS. Dengan kegiatan yang simultan, maka diharapkan sinkronisasi pendampingan anak di sekolah dan rumah mengarah sebagai bentuk kebiasaan. Dampaknya, kompetensi Deep Learning terlaksana dengan tuntas. Perlu dipahami bahwa jika pendekatan ini tidak dilakukan secara terus-menerus, maka proses pembelajaran menjadi dangkal, terbatas pada hafalan serta pengulangan informasi tanpa pemahaman yang mendalam. Pembelajaran yang tidak mendorong eksplorasi, refleksi, dan penerapan pengetahuan dalam konteks nyata membuat siswa kesulitan mengembangkan kompetensi kritis (Engelsen et al, 2024). Efek jangka panjangnya dapat menyebabkan penurunan motivasi belajar, kurangnya keterlibatan aktif siswa, serta terbatasnya kesiapan mereka menghadapi tantangan dunia nyata yang kompleks. 
Uraian di atas, memberikan gambaran pada para praktisi pendidikan bahwa masih ada solusi efektif tentang gemarnya pemerintah melakukan atraksi gonta-ganti kurikulum ataupun pendekatan pembelajaran. Layanan prima untuk siswa merupakan tujuan utama hadirnya seorang guru profesional. Tantangan dunia yang semakin dinamis mengharuskan para guru untuk melakukan sinkronisasi pembelajaran siswa di lingkungan belajarnya. Kolaborasi orang tua dan guru adalah cara ampuh untuk melakukan sinkronisasi tersebut sekaligus mengatasi masalah anak modern. Semoga pendidikan Indonesia semakin mengarah pada pendampingan anak dalam menghadapi situasi global bukan politisasi pendidikan dan ladang proyek pejabat tinggi. (Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan