Baca Koran Jambi Ekspres Online

Penerapan Deep Learning Bukan Tambahan Beban bagi Guru dan Siswa

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menjadi pembicara kunci dalam seminar nasional bertajuk ”Pendekatan Deep Learning pada Pembelajaran SD di Abad ke-21" di Universitas Muhammadiyah Purworejo.--

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO– Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa penerapan pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam dalam sistem pendidikan tidak dimaksudkan untuk menambah beban kerja guru maupun siswa.

Menurutnya, metode ini justru bertujuan untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, bukan memperluas atau menambah jumlah konten yang harus dipelajari.

Penegasan tersebut disampaikan Wamendikdasmen Atip dalam siaran resmi Siniar Sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025, yang digelar di Jakarta pada Senin (25/8).

Ia menyampaikan bahwa masih banyak pihak yang keliru memahami konsep pembelajaran mendalam karena menganggapnya sebagai tambahan tanggung jawab yang membebani.

“Pandangan publik atau persepsi publik seperti ini kemungkinan besar masih terpengaruh atau dihantui bahwa perubahan-perubahan yang dilakukan itu pada umumnya dipersepsi sebagai penambahan beban,” ujar Atip.

Menurut Atip, konsep deep learning justru memberikan kesempatan bagi guru untuk lebih fleksibel dan kreatif dalam menyampaikan materi.

Alih-alih menambahkan banyak konten, pendekatan ini menekankan pemahaman yang lebih dalam terhadap pokok materi, sehingga siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami konteks dan relevansi dari apa yang mereka pelajari.

“Jadi kata kuncinya, titik tekannya itu pada kedalaman. Bukan memperluas materi. Oleh karena itu, guru diberi fleksibilitas, keleluasaan untuk mengeksplorasi bidang studi yang diajar,” jelasnya.

Lebih lanjut, Atip menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam juga memungkinkan terjadinya kontekstualisasi materi.

Artinya, guru dapat mengaitkan pelajaran dengan situasi nyata di kehidupan sehari-hari, sehingga siswa mampu memahami relevansi dan aplikasi dari ilmu yang dipelajari.

Dengan demikian, menurutnya, siswa akan lebih mudah memahami esensi pembelajaran dan tidak sekadar mengejar jumlah materi atau nilai semata.

Pendekatan ini diharapkan dapat membentuk pola pikir kritis dan kemampuan analisis siswa secara lebih menyeluruh.

“Bagaimana mungkin siswa akan terbebani, kalau justru mereka diajak untuk melihat makna dari setiap materi. Ini mengubah fokus dari sekadar konten ke makna,” tambahnya.

Penerapan deep learning sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mentransformasi sistem pendidikan di Indonesia agar lebih adaptif terhadap tantangan zaman.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan