Pertumbuhan Litbang Penting Demi Indonesia Maju
Poster program magang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (ANTARA/HO-BRIN)--
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO-Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menekankan pertumbuhan penelitian dan pengembangan (litbang/R&D) merupakan hal yang penting untuk diwujudkan untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
Dalam webinar Hari Inovasi Indonesia 2025 di Jakarta, Kamis, Handoko menyebutkan R&D menjadi hal yang krusial, khususnya untuk dilakukan oleh dunia industri.
"Sesuai standar UNESCO, 80 persen kontribusi termasuk dari sisi anggaran untuk dunia iptek itu memang harusnya dari swasta. Sedangkan pemerintah seperti halnya BRIN atau perguruan tinggi negeri itu ya paling 20 persen," katanya.
Meski demikian, Handoko menekankan kehadiran lembaga negara dalam bidang litbang ini juga menjadi hal yang penting, khususnya pada upaya litbang di bidang pertahanan dan keamanan yang tidak bisa dilempar ke pasar bebas.
Ia menjelaskan hal ini berlaku di seluruh negara maju.
"Itulah yang ditunjukkan sebenarnya semangat untuk meningkatkan kehadiran negara, yang sebenarnya menjadi awal kenapa BRIN dibentuk 2021. Jadi, negara mengonsolidasikan seluruh sumber daya manusia, anggaran, infrastruktur yang terkait riset inovasi ke dalam BRIN supaya bisa dikembalikan (kepada masyarakat)," ujarnya.
Untuk mewujudkan peningkatan kualitas dan kuantitas litbang di Indonesia, Handoko menyebutkan sejumlah hal dilakukan, di antaranya melalui pendidikan S2-S3 degree by resarch, melengkapi Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang diterapkan di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
"Kita memastikan anak-anak talenta unggul ini tidak sampai terputus, kemudian dia masuk sektor lain dan akhirnya dia tidak akan mungkin kembali. Apalagi di masa-masa krisis seperti saat ini, di mana kondisi ekonomi tidak terlalu bagus, itu kalau di negara maju justru skema postdoc, skema S2-S3 itu yang harus ditingkatkan," ujarnya.
"Sehingga, kalau anak tidak bisa bekerja, dia dibikin stay di bidangnya. Syukur-syukur dia nanti bisa menciptakan, membentuk kepakaran dirinya sehingga pada saat ekonomi membaik, kita memiliki modal yang jauh lebih tinggi," tambah Laksana Tri Handoko.
Senada dengan Handoko, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa penguatan inovasi merupakan kekuatan utama bangsa dalam menghadapi tantangan di masa depan, untuk menuju Indonesia maju.
"Sebagaimana yang dikatakan Presiden Prabowo, negara yang ingin meningkatkan kesejahteraannya harus menguasai sains dan teknologi. Inovasi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan strategis agar kita mampu melompat keluar dari middle income trap dan menuju Indonesia Maju 2045," ucap Menteri Brian. (ant)