Kemendikdasmen Siapkan Program Sahabat Sebaya, Wujudkan Sekolah yang Lebih Aman dan Empatik
Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbudristek Rusprita Putri Utami. --
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah menyiapkan sebuah pendekatan baru bernama “Sahabat Sebaya”, sebuah model dukungan antar pelajar yang diharapkan mampu memperkuat fungsi Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan suportif.
Menurut Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, program ini akan diresmikan pada akhir tahun dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan.
“Kami sedang mempercepat pengembangannya. Insya Allah, akhir tahun ini sudah bisa diterapkan di sekolah-sekolah,” ujarnya saat berbicara dalam Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Jakarta, Rabu (12/11).
Rusprita menjelaskan bahwa konsep Sahabat Sebaya berfokus pada peran siswa sebagai teman pendengar dan penghubung emosional di antara sesama pelajar, guru, dan orang tua.
Para siswa yang tergabung dalam program ini akan mendapat pelatihan dasar konseling dan komunikasi asertif, agar mampu memahami kondisi psikologis teman-temannya serta menjadi tempat berbagi cerita yang aman.
“Anak-anak ini akan kami latih agar bisa menjadi pendengar yang baik, mengenali tanda-tanda masalah pada teman mereka, dan tahu kapan harus menyampaikan situasi serius kepada guru atau pihak sekolah,” jelasnya.
Lebih jauh, Sahabat Sebaya juga akan dikembangkan menjadi Duta Anti Kekerasan di sekolah.
Melalui peran ini, para siswa diharapkan dapat menumbuhkan budaya empati, toleransi, dan keberagaman, sekaligus mencegah munculnya tindakan perundungan atau kekerasan di lingkungan belajar.
Kemendikdasmen menilai pendekatan tersebut penting sebagai langkah pencegahan sejak dini terhadap berbagai persoalan psikologis di kalangan remaja.
Rusprita menambahkan, keberadaan rekan sebaya yang mampu memahami kondisi emosional sering kali lebih efektif membantu siswa membuka diri dibandingkan intervensi langsung dari orang dewasa.
Langkah ini juga menjadi respon atas berbagai kasus kekerasan di sekolah yang bermula dari perasaan terisolasi.
Salah satunya terkait peristiwa peledakan di lingkungan SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu.
Polisi menyebut pelaku remaja dalam kasus tersebut diduga merasa tidak memiliki tempat untuk menyampaikan keluh kesah, baik di sekolah maupun di rumah.
Dengan hadirnya program Sahabat Sebaya, pemerintah berharap setiap siswa memiliki ruang aman untuk bercerita, mendapatkan dukungan, dan tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang saling peduli. (*)