Membaca Tanah, Menjaga Masa Depan Sawah di Desa Suwaloh
Petugas PPL menyerahkan sampel tanah dalam kantong plastik kepada tim agronomis mobil uji tanah Pupuk Indonesia untuk dianalisis di Desa Suwaloh, Tulungagung, Jawa Timur.--
Mengikuti Forum Rembug Tani Bersama Tim Mobil Uji Tanah (MUT) Pupuk Indonesia
MATAHARI siang itu terasa panas menyengat, tapi para petani di Desa Suwaloh, Kecamatan Pakel, Tulungagung, tidak peduli. Mereka berbondong-bondong datang ke emperan kios pupuk untuk mengikuti forum rembug tani bersama tim Mobil Uji Tanah (MUT) Pupuk Indonesia.
Di tangan mereka, tanah sawah yang sudah mereka rawat bertahun-tahun menunggu “diterawang” agar bisa bertahan di tengah hujan yang hampir tak pernah berhenti.
Tanah yang kelelahan, itulah yang dirasakan oleh para petani setelah menanam padi hingga tiga kali berturut-turut tanpa jeda. “Seperti tubuh manusia, tanah juga butuh istirahat. Kalau dipaksa terus, dia lelah dan kehilangan kesuburannya,” kata Taufiqurrahman, seorang petani sekaligus perangkat desa, sambil menunjuk hamparan sawah yang hijau menguning.
Tim agronomis membawa alat dan sampel tanah dari sawah para petani. Dengan cermat, mereka memeriksa kadar nitrogen, fosfat, kalium, pH, dan C-organik tanah. Setiap langkah diperagakan di hadapan sekitar 50 petani yang duduk melingkar, menyimak dengan penuh antusias.
Hasil awal mengungkap fakta mengejutkan: sebagian besar tanah masih tergolong sehat, namun pH tanah cenderung masam. Kandungan C-organik rendah, nitrogen minim, kalium juga rendah, sementara fosfor relatif tinggi. “Kalau tanah terlalu asam, pupuk mahal pun tidak akan bekerja optimal,” jelas Mohamad Saiful Anwar, agronomis dari MUT. Ia menambahkan, dolomit dan pupuk organik bisa membantu menyeimbangkan pH, sehingga tanaman bisa menyerap unsur hara secara maksimal.
Situasi ini mengingatkan petani pada trauma gagal panen pada 2023, saat kemarau panjang dan pola tanam padi tiga kali setahun menyebabkan lebih dari 44 hektare sawah di Tulungagung puso. Mereka belajar dari pengalaman itu, bahwa menanam tanpa membaca kondisi tanah adalah taruhan yang terlalu berisiko.
Kini, mereka ingin memastikan musim tanam berikutnya aman. Dari hasil uji tanah, tim MUT merekomendasikan pemupukan presisi: dolomit hingga 500 kg per hektare untuk lahan masam, penguatan pupuk organik, dan penyesuaian pupuk anorganik seperti NPK Phonska dan Urea sesuai kebutuhan tanah. “Ini bukan sekadar teori,” kata Cindy Systiarani, VP Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia. “Dengan mengetahui kondisi tanah, petani bisa menanam dengan tepat, menghemat pupuk, dan menjaga kesuburan tanah jangka panjang.”
Toni Minging, Ketua Gapoktan Tani Mulya, menyebutkan, pengalaman uji tanah ini membuka mata mereka. “Sekarang kami lebih lega, karena sudah tahu kondisi pasti sawah kami. Tanahnya harus dirawat, bukan hanya tanamannya,” ujarnya.
Bagi petani Desa Suwaloh, membaca tanah bukan hanya urusan teknis, tetapi bagian dari menjaga masa depan sawah dan warisan bagi generasi berikutnya. Setiap butir tanah yang diuji adalah langkah kecil menuju panen yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. Di tengah hamparan sawah yang hijau dan hujan yang tak kunjung reda, mereka belajar mendengar bahasa tanah – dan itulah investasi paling berharga untuk masa depan. (*)