Baca Koran Jambi Ekspres Online

Dari Tatap Muka ke Layar

Ilusterasi - Petugas keamanan membantu seorang peserta TASPEN melakukan verifikasi wajah melalui aplikasi Andal by TASPEN di PT TASPEN Kantor Cabang Jakarta 1, Jakarta, Senin (15/12/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom.--

Mengembangkan Kecerdasan Emosional dalam Layanan Pelanggan Digital

Di era digital, interaksi antara pelanggan dan perusahaan semakin banyak terjadi melalui kanal telekomunikasi, seperti chat, email, media sosial, dan aplikasi pesan instan.

----------------------

PERUBAHAN ini membawa tantangan baru dalam memberikan layanan yang berkualitas. Jika sebelumnya interaksi tatap muka memungkinkan kita membaca ekspresi dan bahasa tubuh, kini komunikasi lebih banyak bergantung pada teks dan suara. Dalam kondisi ini, kemampuan mengelola emosi dan menunjukkan empati menjadi sangat penting.

Kecerdasan emosional (EI) bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan fondasi utama untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang positif.

Layanan pelanggan digital sering kali berlangsung cepat, singkat, dan tanpa konteks emosional yang jelas. Pelanggan yang menghubungi melalui chat atau telepon biasanya menginginkan solusi segera, dan ketika masalah mereka tidak terselesaikan dengan cepat, emosi negatif, seperti frustrasi atau marah, dapat muncul.

Di sisi lain, agen layanan juga menghadapi tekanan untuk merespons banyak permintaan dalam waktu singkat. Tanpa pengendalian emosi yang baik, interaksi bisa berubah menjadi konflik yang merugikan kedua belah pihak.

BACA JUGA:Forum PTP Jadi Motor Penggerak Inovasi Digital Pendidikan Nasional

BACA JUGA:Dukung Peningkatan Kualitas Layanan, SKK Migas PetroChina Bantu Lengkapi Alat Kantor BPN Tanjung Jabung Barat

Kecerdasan emosional membantu agen memahami emosi pelanggan, mengelola reaksi pribadi, dan merespons dengan cara yang menenangkan. Empati, sebagai salah satu komponen kecerdasan emosional, memungkinkan agen melihat masalah dari perspektif pelanggan.

Ketika pelanggan merasa dipahami, tingkat kepuasan meningkat, bahkan jika solusi teknis membutuhkan waktu. Sebaliknya, kurangnya empati dapat membuat pelanggan merasa diabaikan, yang berpotensi merusak reputasi perusahaan.

Empati

Empati dalam layanan digital bukan hanya tentang kata-kata yang digunakan, tetapi juga tentang nada komunikasi dan kecepatan respons. Misalnya, ketika pelanggan mengeluh tentang gangguan jaringan, jawaban yang sekadar teknis, seperti "Sedang dalam perbaikan" mungkin terdengar dingin.

Sebaliknya, respons yang menunjukkan pemahaman, seperti "Kami mengerti gangguan ini mengganggu aktivitas Anda, dan kami sedang berusaha memperbaikinya secepat mungkin" memberikan kesan bahwa perusahaan peduli.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan