Point 100
Oleh : Dahlan Iskan--
JAMBIEKSPRES.CO - Mungkin Anda yang bisa menilai: ini penipuan atau tidak. Ini bisnis online. B2B. Pusatnya di Illinois, Amerika Serikat. Berarti di seputaran Chicago. Namanya: SPS Commerce.
Tentu ia yang saya maksud ini adalah anak muda. Tidak terlalu muda. Alumnus kimia. Sudah bekerja mapan di perusahaan besar. Istrinya alumnus Universitas Brawijaya, jurusan bahasa Inggris.
Maksud saya: ia cukup cerdas untuk menilai bisnis baru yang ia terjuni itu. Apalagi ia sudah berpengalaman menjalankan usaha. Waktu kuliah ia sambil dagang beras. Lalu dagang gula.
Ia juga sudah berpengalaman ”jatuh”. Dua kali. Yakni saat terjun ke bisnis kuliner: pecel dan rawon. Tidak sampai satu tahun tutup. Lalu kuliner lagi. Tutup lagi.
BACA JUGA:OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Penipuan
BACA JUGA:Waspadai Penipuan Berkedok Haji Kilat, Ini Saran Kemenhaj Tanjabtim
Sudah pula mencoba bisnis pertanian. Ia sewa sawah. Tidak sampai setengah hektare. Ditanami melon. Pengelolaannya diserahkan ke petani kenalanmya. Empat bulan kemudian si petani lapor: tanaman melonnya mati semua. Empat bulan, seandainya tidak mati, tentu sudah panen.
"Jangan-jangan sudah panen, uangnya hilang, lalu lapor tanamannya mati?" tanya saya.
"Tidak tahu," jawabnya.
Namanya Moh Yusuf. Tinggal di Pasuruan, Jatim.
Setelah itu Yusuf membuat akun pribadi di medsos. Saya sendiri baru sekali ini dengar nama akun itu --maklum orang tua. Itulah akun untuk menjaring pertemanan.
Yusuf tertarik membuat akun di situ karena bisa dipercaya. Harus pakai nama asli. Identitas juga harus asli. Bahkan setiap melakukan kontak harus menyertakan Google map: bisa diketahui sedang di mana saat posting itu dilakukan.
Ada satu orang yang menyapanya: ”Hi”. Juga hanya dijawab ”hi” oleh Yusuf.
Akhirnya mereka berkenalan. Saling bertukar nomor WA. Dari komunikasi itu akhirnya saling tahu. Yusuf tahu dia kerja apa. Dia juga tahu Yusuf kerja di perusahaan apa.