Mengembalikan Esensi Kebaya sebagai Identitas Perempuan Indonesia

Model mengenakan busana kebaya bertema Merah Putih saat peragaan busana --

JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO-Hari Kebaya Nasional telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Keppres No.19 tahun 2023, sebagai langkah untuk mempertahankan dan melestarikan kebaya sebagai warisan budaya yang sangat berharga.
Kebaya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan wanita Indonesia selama berabad-abad, merefleksikan keanggunan dan identitas budaya Nusantara.
Menurut Dwi Woro Retno Mastuti, pengajar program studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, perkembangan kebaya kini sangat pesat dan luar biasa.

BACA JUGA:Tampil Nyentrik, Mulai Dari Batik Hingga Kebaya

BACA JUGA:Kolaborasi Seniman dan Maestro Senandung Jolo untuk Merawat Ekosistem Budaya dan Pewarisan

Ketersediaan bahan yang lebih mudah diakses, desainer yang semakin mahir, serta aksesori yang melengkapi telah menghidupkan kembali pesona kebaya dalam berbagai varian modern.
Dulu, sekitar tahun 1950-an hingga 1990-an, kebaya populer hanya sebatas kutubaru dan kebaya kartini.

Namun, dengan meningkatnya penggunaan hijab, kebaya juga beradaptasi dengan model busana muslimah.
Kebaya bukan hanya sekadar pakaian, tetapi simbol kecantikan yang memancarkan sisi feminin dengan gaya khas Jawa, mewakili Indonesia dengan indahnya.
Bambang Irawan, seorang budayawan dari Solo, menambahkan bahwa kebaya kini telah berkembang sebagai bagian integral dari fesyen kontemporer, baik dalam maupun luar negeri.

BACA JUGA:Ada Kelas Budaya Tibet Sekali Seminggu di Sekolah

BACA JUGA:Indonesia Berambisi Memajukan Kebudayaan Sebagai Kekuatan Nasional, Mirip dengan Korea Selatan

Kebaya tidak hanya menjadi pilihan untuk acara formal, tetapi juga untuk sehari-hari dengan gaya yang lebih personal.
Kebaya memiliki banyak variasi, seperti kutubaru, kebaya encim dengan pengaruh peranakan, Betawi dengan potongan longgar, kebaya kartini, kebaya labuh dari Riau, dan kebaya noni yang terinspirasi dari masa kolonial Belanda.
Menurut Hagai Pakan, seorang penata gaya, kebaya kini dihargai lebih baik dan dipandang sebagai "pakaian perempuan Indonesia" yang kembali ke hakikatnya.

Banyak figur publik yang memakai kebaya bukan hanya pada acara formal, tetapi juga dalam konteks sehari-hari, menunjukkan bahwa kebaya telah menjadi bagian dari gaya hidup yang umum.
Namun demikian, pemakaian kebaya tidak harus kaku atau konservatif. Kebaya dapat dipadukan dengan gaya modern tanpa menghilangkan esensinya sebagai pakaian tradisional.

BACA JUGA:Pemprov Kaltim Eksplorasi Budaya Songsong IKN

BACA JUGA:Perlu Renovasi Situs Bersejarah Akan Dijadikan Warisan Budaya
Untuk mempertahankan keberadaannya, Dwi menekankan pentingnya tokoh-tokoh yang dapat menjadi contoh dalam memakai kebaya.

Keberadaan festival dan acara yang mewajibkan penggunaan kebaya juga penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai dan keindahan kebaya.
Komunitas lokal berperan penting dalam memperkuat kesadaran akan pentingnya melestarikan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.

BACA JUGA:Tunggu Perintah Ditjen Kebudayaan Terkait Pemindahan Stockpile di Sekitar Kawasan Candi

BACA JUGA:Cagar Budaya Muaro Jambi Dikepung Stockpile Batubara, Polda Jambi Cari Fakta Sebenarnya
Kebaya tidak hanya pakaian, melainkan simbol dari keindahan dan keanggunan perempuan Indonesia, yang perlu dihargai dan dilestarikan untuk generasi mendatang. (*)

Tag
Share