Fluktuasi Pasar Kripto, Pengaruh Kebijakan Ekonomi AS dan Potensi Masa Depan
Ilustrasi - Mata uang kripto. ANTARA/HO-LEEDXS --
JAKARTA, JAMBIEKSPRES.CO- Pasar kripto belakangan ini menghadapi fluktuasi signifikan, yang sebagian besar dipicu oleh kebijakan ekonomi terbaru pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump. F
ahmi Amuttaqin, seorang analis dari Reku, menjelaskan bahwa pengumuman penundaan tarif impor 25 persen untuk Meksiko dan Kanada telah menciptakan dampak langsung terhadap pergerakan Bitcoin (BTC), yang saat ini berada pada angka 96.953 dolar AS per 1 BTC, mengalami koreksi setelah beberapa pekan sebelumnya mengalami lonjakan.
Menurut Fahmi, pernyataan dari David Sacks, seorang pengusaha yang dekat dengan Trump dan kini menjabat sebagai penasihat khusus untuk AI dan Crypto di Gedung Putih, mengenai regulasi stablecoin yang akan menjadi prioritas pemerintah AS, turut memberi dampak signifikan pada dinamika pasar kripto.
"Koreksi yang terjadi di pasar kripto ini sangat dipengaruhi oleh pernyataan Sacks. Regulasi yang mengutamakan stablecoin dan kebijakan ramah kripto dari pemerintah AS dapat mengubah arah pergerakan pasar," kata Fahmi dalam rilisnya, Jumat.
BACA JUGA:Transaksi Kripto di Indonesia Diprediksi Capai Rp1.000 Triliun pada 2025
BACA JUGA:Pasar Kripto dan Saham AS Alami Kenaikan Bersamaan, Berkat Meredanya Inflasi
Sementara itu, pasar saham AS menunjukkan pemulihan yang stabil setelah pasar menilai respons China terhadap kebijakan tarif baru AS masih dalam batas wajar.
Fahmi menyoroti bahwa kebijakan ekonomi AS semakin mendominasi pasar global, termasuk dalam memengaruhi pasar saham dan kripto.
Fahmi juga mencatat bahwa meski tren dari kebijakan tarif AS mungkin akan mereda, perbincangan mengenai cadangan Bitcoin yang diwacanakan oleh pemerintah AS dapat membawa angin segar bagi pasar kripto jika mendapat dukungan lebih lanjut.
"Jika wacana cadangan Bitcoin tersebut benar-benar terlaksana, itu akan menjadi sinyal positif yang sangat kuat bagi pasar kripto global," imbuh Fahmi.
Menurut Fahmi, perkembangan ini menunjukkan bahwa pasar kripto semakin terhubung dengan kebijakan ekonomi yang dibuat oleh negara besar seperti AS.
Melihat potensi tersebut, ia menekankan pentingnya bagi investor untuk memperhatikan dinamika kebijakan ekonomi yang terus berkembang, yang berpengaruh pada harga aset digital.
"Dominasi AS dalam pasar kripto dapat memperbesar dampak kebijakan mereka terhadap pasar ini. Jika kebijakan yang mendukung kripto dilanjutkan, kita bisa melihat pertumbuhan yang signifikan," ujar Fahmi.
Selain itu, di pasar saham AS, perusahaan teknologi besar juga menunjukkan kinerja yang bervariasi. Alphabet (GOOG) mengalami penurunan harga saham karena laporan pendapatan yang mengecewakan dari sektor cloud, sementara AMD justru mengalami lonjakan harga saham karena prospek cerah di sektor kecerdasan buatan (AI).
Snap (SNAP) juga menunjukkan kinerja positif setelah mengumumkan laporan keuangan yang melampaui ekspektasi pasar.
"Secara keseluruhan, dinamika ini menuntut investor untuk lebih lincah dalam menyesuaikan portofolio mereka. Diversifikasi menjadi strategi penting, terutama dengan mencampurkan investasi di kripto dan saham AS, guna memanfaatkan potensi dari kedua pasar ini," tambah Fahmi.
Bagi investor yang lebih mengutamakan analisis fundamental, Fahmi menyarankan untuk berinvestasi di aset kripto dengan kapitalisasi pasar besar, atau dikenal sebagai kripto blue chip.
Platform Reku menawarkan fitur-fitur seperti "Packs" yang memudahkan investor untuk berinvestasi dalam berbagai kripto besar sekaligus.
"Reku memudahkan diversifikasi investasi kripto melalui Packs, serta memberikan akses ke saham AS dan ETF yang terkurasi, yang memungkinkan investor untuk memanfaatkan peluang di pasar saham global," kata Fahmi.
BACA JUGA:OJK Ambil Alih Pengawasan Kripto, Fokus pada Integrasi dengan Sektor Keuangan
BACA JUGA:Perdagangan Kripto di Indonesia Meningkat Pesat, Capai Rp556,53 Triliun
Investor juga dapat memanfaatkan fitur "Insights" untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan investasi.
Fitur ini menyediakan analisis berbasis data dan tren media sosial, serta informasi terkait saham yang sedang tren atau diskon, membantu investor mengambil keputusan berdasarkan data yang terkini. (*)